Metode Tahfidh Quran Alhasanah

Dalam metodologi Tahfizh Al Qur’an PTQ Al Hasanah memperkenalkan metode Tatimu as Sholihah yang merupakan gabungan dari (Tahsin, Tallaqi wa Tahfizh, Muraja’ah, sima’an, kitabah wa haflah akhir sanah)

Tahsin Al Qiraah

Dalam belajar verbal dan keterampilan, meningkatkan kemampuan hasil belajar dapat dicapai melalui praktek dan latihan. Latihan biasanya berlangsung dengan cara mengulang-ulang suatu hal sehingga terbentuk kemampuan yang diharapkan, sedangkan praktek biasanya dilakukan suatu kegiatan dalam situasi sebenarnya, sehingga memberi pengalaman belajar yang bersifat langsung

Latihan dan praktek dapat dilakukan secara perseorangan, kelompok atau klasikal. Menentukan apakah latihan yang dilaksanakan bersifat perseorangan, kelompok atau klasikal, didasarkan atas memadainya sarana dan prasarana yang tersedia.

Dalam proses pembelajaran tahfizh di PTQ Al Hasanah dengan menggunakan personalized system of intruction. ( PSI ), yang dikembangkan oleh Fred S Keller ( 1968 ), sistem ini memberikan perhatian yang khusus pada setiap pelajar, memberi mereka kesempatan untuk maju menurut kecepatan masing-masing dan diharuskan menguasai satuan pelajaran sebelum diperkenankan untuk mempelajari pembelajaran berikutnya.

tallaqi wa tahfizh

Pada tahapan tahsin qira’ah, para santri penghafal quran pada pondok pesantren al Islamiyyah. Membaca ayat yang akan disetorkan kehadapan ustadz untuk dibenarkan terlebih dahulu didalam pengucapan kalimat-kalimat alquran. Apabila dianggap sudah betul maka santri tersebut memulai hafalannya berdasarkan bacaan yang telah dibacanya dihadapan ustadz. Tehnik pembelajaran yang digunakan adalah talaqqi yaitu berhadapan langsung antara santri dengan ustadz untuk memperbaiki bacaannya. Karena bacaan Al quran tidak mungkin  dapat mencapai standar baik dan benar secara maksimal ketika masing-masing huruf hijaiyyah diucapkan tidak tepat atau tidak sesuai dengan makhraj dan sifat nya

Muraja’ah

Cara untuk mengukuhkan hafalan adalah dengan banyak mengulang. Manusia berbeda-beda kemampuannya dalam hal ini. Diantara mereka ada yang hafalannya dapat langsung masuk memori otaknya walau hanya dengan sedikit pengulangan.

Pengulangan tidak sepenuhnya harus diabaikan, karena ia memiliki dua fungsi penting :

Pertama. Sebagai sebuah tes internal untuk memastikan bahwa ia telah mempelajari sebuah informasi baru secara benar. Jika mempelajari pengetahuan dalam cara yang tidak benar, maka akan sulit untuk memperbaiki pengetahuan tersebut.

Kedua. Ia merupakan alat penting dalam melawan musuh utama ingatan yaitu perputaran waktu. Waktu adalah penghapus ingatan yang paling kuat. Dalam sebuah eksperimen klasik yang dilakukannya, Hermann Ebbinghaus, seorang psikolog eksperimental, mengatakan bahwa ingatan akan menghilang secara dramatis segera setelah ia dipelajari untuk pertama kalinya.

Dalam metode muraja’ah hafalan PTQ Al Hasanah mencoba menerapkan metode pembelajaran role playing dengan dipimpin oleh santri senior yang memiliki hafalan lebih banyak daripada santri yang dibimbingnya. Dengan membentuk kelompok yang terdiri dari 1-5 orang atau 1-10 sesuai dengan kelas tingkatan hafalan mereka.

Kegiatan muraja’ah itu dilakukan pada minggu pertama awal bulan dan minggu ketiga. Dimulai pada pukul 8 pagi hingga pukul 10 pagi, materi murajaah disesuaikan dengan keinginan kelompoknya masing-masing.

Sima’an ( memperdengarkan hafalan / Ujian quran bil ghoib )

ujian hafalan quran bagi santri yang telah mencapai hafalan quran, 5,10,15,20,25 dan 30 juz.

kitabah wa haflah akhir sanah

Pertemuan para alumni santri PTQ Al Hasanah dengan melakukan simaan Al quran 30 Juz, sebagai ajang silahturahmi, mempererat hubungan pesantren dan alumni sekaligus untuk menguatkan kembali hafalan setelah mereka berkiprah dan berperan aktif di masyarakat.

Leave a Reply

Your email address will not be published.